Tak ada sepasang suami istri pun melainkan merindukan hadirnya anak di tengah mereka sebagai qurratu ‘ain, penyejuk mata dan hati mereka. Dapat dibayangkan betapa sepinya sebuah rumah tangga berikut hati penghuninya tatkala anak yang didamba tak jua diperoleh. Tak heran ketika lama tak dikaruniai anak, Nabiyullah Zakariyya q menyenandungkan doa kepada Al-Wahhab mengadukan keadaan dirinya:

Yaitu tatkala ia berdoa kepada Rabbnya dengan suara yang lembut/perlahan. Ia berkata, “Wahai Rabbku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau. Dan sungguh aku khawatir terhadap orang-orang yang ada di belakangku sepeninggalku nanti, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahkanlah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya’qub, dan jadikanlah dia, wahai Rabbku, seorang yang diridhai.” (Maryam: 3-6)

Dalam ayat lain:

“Wahai Rabbku, anugerahkanlah aku dari sisi Engkau seorang keturunan yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar doa.” (Ali ‘Imran: 38)

Ketika lama tak beroleh keturunan, Abul Anbiya (Bapak para nabi), Al-Khalil Ibrahim q juga berdoa:

“Wahai Rabbku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih.” (Ash-Shaffat: 100)

Para nabi merindukan anak. Setiap pasangan suami istri juga mendambakan anak, karena memang anak merupakan nikmat Allah l yang besar.

Ketika si anak telah hadir di tengah sebuah keluarga, kasih sayang, cinta dan perhatian yang besar pun tertumpu padanya. Ayah dan bunda rela mengorbankan apa saja demi kebahagiaan si buah hati.

Ini pula yang dirasakan oleh Nabiyullah Ibrahim q ketika Allah l menganugerahkan kepadanya Ismail, seorang anak yang amat penyabar. Betapa dalam cinta dan kasih Ibrahim kepada putranya ini.

Namun di saat-saat yang demikian, Allah l hendak menguji Ibrahim, apakah ia lebih mencintai sang putra ataukah ia lebih cinta kepada Rabbnya yang telah memilihnya sebagai khalil/kekasih? Allah l memerintahkan Ibrahim agar membawa putranya yang masih bayi berikut ibunya, Hajar, ke sebuah lembah yang tiada berpenghuni, menempatkan anak dan ibu tersebut di tempat itu serta meninggalkan mereka berdua.

Nabi Ibrahim q ternyata lulus dari ujian tersebut. Dengan penuh keyakinan kepada Allah l bahwa Allah l tidak akan menelantarkan anak keturunannya, ditinggalkannya Ismail dan Hajar sang ibu, di lembah yang sepi. Memang Allah l menjaga Ismail dan ibunya, serta memuliakan keduanya. Akhirnya Allah l mempertemukan kembali Ibrahim dengan sang putra yang sangat dikasihi.

Allah lkembali hendak menguji cinta Ibrahim kepada-Nya dengan memerintahkan Ibrahim lewat mimpinya agar menyembelih putra terkasih yang kini telah menjadi seorang pemuda yang gagah. Kembali Ibrahim tunduk kepada titah Rabbnya ditambah kepasrahan sang putra. Allah l berfirman:

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan putranya di atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan Kami berseru kepadanya, “Wahai Ibrahim! Sungguh engkau telah membenarkan mimpi tersebut. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar sebuah ujian yang nyata.” Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim pujian yang baik di kalangan orang-orang yang datang kemudian. Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya Dia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman. (Ash-Shaffat: 103-111)

Demikianlah, memang Allah l tidak menghendaki nikmat anak yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya melalaikan mereka dari mengingat Allah l. Allah ltidak menginginkan mereka mengedepankan cinta mereka kepada anak lebih daripada cinta mereka kepada-Nya. Karena itu, Dia Yang Mahasuci mengingatkan dalam Tanzil-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-harta kalian dan anak-anak kalian melalaikan kalian dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.” (Al-Munafiqun: 9)

Dalam ayat di atas, Allah l berfirman memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman agar banyak mengingat-Nya (berzikir kepada-Nya). Karena berzikir kepada-Nya akan memberikan keuntungan dan kesuksesan serta kebaikan yang banyak. Dia melarang mereka tersibukkan dengan harta-harta dan anak-anak dari mengingat-Nya, karena memang kecintaan kepada harta dan anak-anak merupakan tabiat yang mendominasi kebanyakan jiwa. Akibatnya, seseorang bisa mengedepankan cinta kepada harta dan anak daripada cinta kepada Allah l.

Dia mengabarkan kepada mereka bahwa tersibukkan dengan harta dan anak termasuk kelalaian. Artinya, terlalaikan oleh perhiasan kehidupan dunia dan gemerlapnya dari tujuan seseorang diciptakan, yaitu untuk taat kepada Rabbnya dan mengingat-Nya. Barangsiapa berbuat demikian, maka dia termasuk orang-orang yang merugi, yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarga mereka pada hari kiamat.

Karenanya, Allah l berfirman: “Barangsiapa yang berbuat demikian,” yaitu harta dan anak melalaikannya dari berzikir kepada Allah l, “maka mereka itulah orang-orang yang merugi,” tidak beroleh kebahagiaan yang abadi dan kenikmatan yang kekal, disebabkan mereka lebih mengutamakan yang fana daripada yang kekal. (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/106, Taisir Al-Karimir Rahman, hlm. 865)

Allah l juga berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istri dan anak-anak kalian ada yang menjadi musuh bagi kalian, maka berhati-hatilah terhadap mereka. Dan jika kalian memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni mereka maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah1 bagi kalian, dan di sisi Allahlah pahala yang besar.” (At-Taghabun: 14-15)

Kata Al-Hafizh Ibnu Katsir t, di antara istri dan anak ada yang menjadi musuh suami dan ayah. Artinya, anak atau istri tersebut akan melalaikan seseorang dari beramal shalih. Harta dan anak-anak hanyalah fitnah, yaitu ujian dan cobaan dari Allah l kepada makhluk-Nya, agar Dia mengetahui siapa yang taat kepada-Nya dan siapa yang durhaka. (Tafsir Al-Qur’anil Azhim, 8/111)

Asy-Syaikh Al-’Allamah Abdurrahman ibnu Nashir As-Sa’di t dalam tafsirnya menyatakan, “Ini merupakan peringatan Allah l kepada orang-orang yang beriman agar tidak tertipu dengan para istri dan anak-anak, karena sebagian mereka merupakan musuh bagi kalian. Yang namanya musuh, tentu menginginkan kejelekan untukmu. Jadi, tugasmu adalah berhati-hati dari orang yang demikian sifatnya. Tambahan pula, jiwa tercipta untuk mencintai para istri dan anak-anak2.

Oleh sebab itu, Allah l menasihatkan hamba-hamba-Nya agar kecintaan itu tidak sampai membawa mereka terikat dengan permintaan/tuntutan para istri dan anak-anak yang mengandung hal-hal yang dilarang syariat. Allah l memberikan hasungan kepada mereka untuk melaksanakan perintah-perintah-Nya dan mengedepankan keridhaan-Nya, berupa pahala yang besar di sisi-Nya, yang mencakup tuntutan yang tinggi dan kecintaan yang mahlm. Sebagaimana Dia memerintahkan mereka agar mementingkan dan mendahulukan akhirat daripada dunia fana yang akan berakhir.

Tatkala Dia melarang menaati istri-istri dan anak-anak dalam hal yang dapat memberikan mudarat kepada seorang hamba dan memperingatkan masalah ini, mungkin bisa timbul anggapan yang keliru, yaitu harus selalu bersikap keras lagi kaku kepada istri-istri dan anak-anak serta memberikan hukuman kepada mereka. Tidaklah demikian. Justru kita dihasung untuk memaafkan mereka, karena pemaafan mengandung kebaikan yang tidak mungkin dibatasi banyaknya.” (Taisir Al-Karimir Rahman, hlm. 868)

Rasulullah n sendiri merasakan betapa besarnya ujian anak. Ketika tengah berkhutbah, beliau n sampai memutus khutbah beliau karena melihat kedua cucu beliau. Hal ini kita ketahui dari hadits Buraidah z berikut ini:

خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ n فَأَقْبَلَ الْحَسَنُ وَالْحُسَيْنُ c عَلَيْهِمَا قَمِيْصَانِ أَحْمَرَانِ يَعْثِرَانِ وَيَقُوْمَانِ، فَنَزَلَ فَأَخَذَهُمَا فَصَعِدَ بِهِمَا الْمِنْبَرَ ثُمَّ قَالَ: صَدَقَ اللهُ {إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَ أَوْلاَدُكُمْ فِتْنَةٌ} رَأَيْتُ هَذَيْنِ فَلَمْ أَصْبِرْ. ثُمَّ أَخَذَ فِي الْخُطْبَةِ

Rasulullah n sedang menyampaikan khutbah kepada kami, lalu datanglah Al-Hasan dan Al-Husain, semoga Allah l meridhai keduanya, dengan mengenakan qamis berwarna merah. Keduanya jatuh tergelincir dan bangun/bangkit kembali. Sebab itu, Rasulullah n turun dari mimbar, mengambil keduanya lalu naik mimbar sambil membawa keduanya. Kemudian beliau bersabda,

“Mahabenar Allah, Dia telah berfirman: ‘Sesungguhnya harta-harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah fitnah bagi kalian.’ Aku melihat kedua anak ini maka aku tidak sabar/tidak bisa menahan diri untuk menghampiri keduanya.” Setelah itu beliau mulai lagi berkhutbah. (HR. Abu Dawud no. 1109 dishahihkan dalam Shahih Abi Dawud)

Cinta kepada anak jangan melalaikan dari mengingat Allah l

Anak memang harus mendapatkan cinta, kasih sayang, dan perhatian. Namun kecintaan, kasih sayang dan perhatian kepadanya tidak boleh melalaikan kita dari ketaatan kepada Allah l dan berzikir kepada-Nya.

Ingatlah kisah Ibrahim q berkaitan dengan putranya Ismail q. Pengorbanan Ibrahim q menunjukkan kepada kita betapa Ibrahim q sangat mencintai Rabbnya l dan tidak pernah lalai dari mengingat-Nya, walaupun ia memiliki anak yang sangat dikasihinya. Namun cinta-Nya kepada Allah lmengalahkan segalanya, karena memang itulah yang dituntut dari seorang hamba. Bukankah Allah l telah memperingatkan:

Katakanlah: “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan kerugiannya, rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (At-Taubah: 24)

Ketaatan dan kecintaan kepada Rasulullah n pun harus dikedepankan daripada kecintaan kepada seluruh makhluk. Barangsiapa yang tidak melakukan yang demikian, maka ia tidaklah beriman dengan iman yang sempurna. Karena Rasulullah n bersabda:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ

“Tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih ia cintai daripada anaknya, ayahnya, dan manusia seluruhnya.” (HR. Al-Bukhari no. 15 dan Muslim no. 44)

Menumbuhkan suasana zikir di dalam rumah

Betapa indahnya gambaran sebuah keluarga yang anggotanya tidak lalai dari berzikir kepada Allah l, senantiasa menghidupkan ketaatan kepada Allah l dan Rasul-Nya. Betapa tenteramnya hati mereka dan betapa damainya rumah mereka karena Allah l telah menyatakan:

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Ar-Ra’d: 28)

Karena itu, seorang ayah sebagai kepada rumah tangga harus menghidupkan suasana zikir kepada Allah l di rumahnya. Ia harus mengajak anak-anak dan istrinya berikut penghuni rumah yang lain untuk selalu berzikir kepada Allah l. Zikir sendiri jangan dipahami seperti zikirnya orang-orang Sufi, berkumpul di satu tempat lalu menyuarakan zikir secara bersama-sama, berteriak dengan suara keras, mengucapkan lafadz-lafadz yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah n, ke mana-mana membawa dan mengalungkan biji-biji tasbih, serta berbagai perbuatan lain yang tidak ada tuntutan syar’inya.

Menghidupkan zikir di rumah bisa dilakukan dengan mengajak dan memerintahkan anak-anak agar rutin membaca Kitabullah, memperbanyak shalat nafilah di dalam rumah, mengucapkan doa dan zikir-zikir yang dituntunkan untuk perlindungan setiap pagi dan petang. Tidak lupa membaca doa sebelum makan dan minum, ketika mau tidur dan saat terbangun, ketika masuk WC, dan zikir-zikir lain yang diajarkan Nabi kita yang mulia n.

Saat si anak bersin, kita ingatkan dia agar mengucapkan hamdalah. Ketika ia menguap, kita ingatkan dia agar menutup mulutnya dan menahan suaranya serta mengucapkan kalimat isti’adzah.

Kecintaan kepada ilmu agama pun harus ditumbuhkan di tengah keluarga, karena belajar ilmu agama termasuk zikir kepada Allah l. Dengan belajar agama seseorang bisa mengetahui mana perkara yang bisa mendatangkan kecintaan Allah l dan mana yang bisa mendatangkan murka-Nya, sehingga apa yang mendatangkan cinta-Nya dikerjakan dan yang mengundang murka-Nya ditinggalkan.

Sang ayah harus cinta kepada ilmu syar’i, ibu juga demikian. Anak-anak tinggal mencontoh kedua orang tuanya setelah tentunya mereka dihasung dengan lisan.

Demikianlah di antara upaya yang bisa dilakukan untuk senantiasa mengingat Allah l dan tidak lalai dari-Nya.

Sebagai penutup, kita ingatkan kembali bahwa anak merupakan nikmat Allah l yang patut disyukuri. Salah satu bentuk kesyukuran kepada Dzat yang telah memberikan kenikmatan adalah dengan senantiasa mengingat-Nya dan mendidik anak untuk mengingat-Nya pula.

Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab..
 
Top