Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam kitab beliau Ighatsatul Lahafan fi Masyayidisy Syaithan menjelaskan bahwa penyakit hati ada dua macam.[1]

Pertama, penyakit hati yang langsung bisa dirasakan seketika itu. Seperti rasa sedih, gundah, gelisah dan marah. Maka penyakit ini bisa hilang dengan pengobatan- pengobatan secara thabi'i, seperti dengan menghilangkan sebab-sebabnya atau dengan melakukan hal yang berlawanan dengannya dan yang akan menolaknya.

Dengan semata-mata adanya penyakit jenis ini dalam hati seorang hamba, tidak mesti menyebabkan kesengsaraan dan siksaan setelah kematian, berbeda dengan jenis penyakit hati yang kedua.

Dan merupakan kesempurnaan pengobatan terhadap penyakit hati jenis ini adalah dengan senantiasa memahami kelemahan dan kekurangan seorang hamba serta kesempurnaan Allah Sang pencipta. Sehingga dengan hal itu seorang hamba senantiasa meminta dan bertawakal hanya kepada Allah, Dzat yang menguasai manfaat dan madharat, untuk menghilangkan penyakit ini. Yang dengan itu dia akan mendapatkan manfaat tidak hanya di dunia, namun bahkan dia akan mendapatkan manfaat di akhirat. Hal ini bisa kita perhatikan dari petunjuk Nabi n dalam mengobati penyakit jenis ini.

Di antaranya, petunjuk beliau kepada orang yang tertimpa musibah, sebagaimana dalam sabda beliau,“Jika seorang hamba tertimpa suatu musibah lalu dia mengatakan ‘inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma`jurni fi mushibati wa akhlifli khairan minha,’[2] niscaya Allah memberikan pahala untuknya pada musibahnya tersebut dan Allah akan memberikan ganti yang lebih baik dari musibah tersebut untuknya.”[3]

Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah berkata[4], “Kalimat ini merupakan obat paling ampuh untuk orang yang tertimpa musibah, dan paling bermanfaat baginya baik di dunia maupun di akhirat. Karena kalimat ini mengandung dua pokok (keyakinan) yang agung. Jika seorang hamba benar-benar mengetahuinya, dia akan terhibur dan terlupa dari musibahnya.

Pertama, bahwa sebenarnya seorang hamba, keluarga dan hartanya adalah milik Allah

Dan Allah menjadikannya pada diri hamba sebagai pinjaman. Jika Allah mengambilnya dari hamba, maka sama saja dengan pemberi pinjaman yang mengambil barangnya dari orang yang meminjam. Selain itu, sesungguhnya seorang hamba dibatasi oleh dua ketiadaan, ketiadaan sebelumnya dan ketiadaan sesudahnya. Dan kepemilikan seorang hamba, baginya hanyalah pemanfaatan barang pinjaman yang sementara. Dia bukan orang yang mengadakannya dari ketiadaan sehingga menjadi pemilik yang sebenarnya. Dan juga bukan orang yang bisa menjaganya dari kerusakan setelah adanya, tidak pula mampu melanggengkan keberadaannya. Maka dia tidak memiliki pengaruh sama sekali maupun kepemilikan yang hakiki padanya. Kemudian, perlakuan seorang hamba terhadapnya adalah bagaikan perlakuan seorang budak yang diperintah dan dilarang, tidak sebagaimana perlakuan orang yang memiliki. Oleh karena itu, dia tidak boleh memperlakukannya kecuali dengan perlakuan yang sesuai dengan perintah Pemiliknya yang sebenarnya.

Kedua, bahwa tempat kembali dan pulangnya seorang hamba adalah kepada Allah, Maula-nya yang sebenarnya. Dan dia pasti akan meninggalkan dunia dan akan mendatangi Rabb-nya dalam keadaan sendirian sebagaimana Dia menciptakannya pertama kali, tanpa istri, harta dan keluarga. Akan tetapi (dia akan mendatangiNya) dengan membawa kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukan. Jika demikian permulaan dan akhir seorang hamba beserta apa yang dikuasakan kepadanya, kenapa dia sangat gembira dengan apa yang ada dan berputus asa atas apa yang hilang?! Maka pikirannya terhadap permulaan dan tempat kembalinya, merupakan obat terampuh untuk penyakit ini.”

Petunjuk yang lain, sabda Nabi shallallahu’alaihi wasallam,
“Jika seorang hamba tertimpa rasa sedih dan gelisah, lalu membaca doa (yang artinya), ‘Ya Allah, sesungguhnya aku adalah hambaMu, anak hambaMu (Adam) dan anak hamba perempuanMu (Hawa). Ubun-ubunku di tanganMu, hukumMu berlaku padaku dan ketetapanMu kepadaku adalah adil. Aku memohon kepadaMu dengan setiap nama yang Engkau miliki, yang telah Engkau sebutkan untuk diriMu, Engkau ajarkan kepada salah satu makhlukMu, Engkau turunkan dalam kitabMu, atau Engkau khususkan untuk diriMu dalam ilmu ghaib di sisiMu, agar Engkau jadikan al-Qur`an sebagai penghidup hatiku, cahaya di dadaku, penghilang kesedihan dan kegelisahanku,’ niscaya Allah akan menghilangkan kegelisahan dan kesedihannya, dan menggantikannya dengan kelapangan.”[5]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hadits yang agung ini mengandung beberapa perkara tentang ma’rifah, tauhid dan ubudiyah.”[6]

Dari sini nampak, bahwa semakin kuat tauhid seorang hamba dan semakin kuat ma’rifah-nya kepada Allah dan hakikat dirinya sebagai seorang hamba, maka penyakit hati jenis ini akan mudah diatasi. Oleh karena itu, ketika para nabi ‘alaihimus salam menghadapi suatu perkara yang menyebabkan kegelisahan, kegundahan dan rasa takut, mereka senantiasa mengembalikan urusan mereka kepada Allah Ta'ala.

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, dia berkata, “Hasbunallah wa ni’mal wakil (cukuplah Allah bagi kami, dan Dia adalah sebaik-baik Dzat yang diserahi segala urusan), kalimat ini diucapkan oleh Nabi Ibrahim p ketika beliau dilemparkan ke dalam api.”[7]

Allah Ta'ala berfirman tentang orang-orang yang beriman,“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan, ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, Maka Perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong Kami dan Allah adalah Sebaik-baik Pelindung’.” (Ali ‘Imran: 173)

Kedua, penyakit hati yang tidak bisa dirasakan seketika itu. Penyakit inilah yang menjadikan hati sebagai qalbun maridh. Dan jenis ini jauh lebih berbahaya dari jenis penyakit hati yang pertama, namun karena rusaknya, hati yang mengidap penyakit ini tidak bisa merasakannya. Hal itu karena hawa nafsu dan kebodohan yang memabukkan telah menghalangi antara hati ini dengan rasa sakit yang ditimbulkan.

Penyakit hati ini yang banyak disebutkan oleh Allah Ta'ala dalam al-Qur`an. Di antaranya, Allah Ta'ala berfirman,“Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah tambah penyakitnya. Dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (al-Baqarah: 10)

“Agar Dia menjadikan apa yang dimasukkan oleh setan itu, sebagai cobaan bagi orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan yang kasar hatinya.” (al-Hajj: 53)

“Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (al- Ahzab: 32)

“Sesungguhnya jika tidak berhenti orang-orang munafik, orang-orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu), niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar.” (al-Ahzab: 60)

Dan penyakit jenis inilah yang berbahaya bagi diri seorang hamba di akhirat, karena akan menyebabkan kesengsaraan dan siksaan yang pedih, jika tidak segera diberikan obat penawarnya.

Adapun obat terhadap penyakit ini, hanyalah dengan ilmu dan keimanan yang telah Allah jelaskan melalui utusanNya yang mulia n dan diteruskan oleh para ulama pewaris Nabi n. Dan inilah yang akan kita bahas pada poin-poin selanjutnya, insyaallah.

HAKIKAT PENYAKIT HATI

Sesungguhnya, segala kemaksiatan terhadap Allah dan penyimpangan dari ajaranNya, akan menyebabkan hati seorang hamba menjadi kotor berpenyakit. Jika hal itu dibiarkan, tidak dibersihkan dan tidak diobati, maka kotoran dan penyakit itu akan bertumpuk sehingga menutupi hati tersebut, wal ‘iyadzu billah. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya seorang hamba, jika melakukan suatu kesalahan (dosa), maka dituliskan titik hitam pada hatinya. Jika dia berhenti (dari kesalahan itu), meminta ampunan dan bertaubat, niscaya hatinya kembali bersih. Namun jika dia kembali (melakukan dosa), maka titik hitam itu akan ditambah sehingga menutupi hati. Itulah ‘ron’ (tutupan) yang Allah sebutkan dalam firmanNya, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’ (al-Muthaffifin: 14)”[8]

Akan tetapi, hakikat dari seluruh kemaksiatan dan penyimpangan, atau dengan kata lain, hakikat seluruh penyakit hati seorang hamba berpulang kepada penyakit syubhat dan syahwat.

Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimahullah berkata, “Dan sisi pembatasan penyakit (hati) menjadi dua jenis penyakit ini (syubhat dan syahwat) adalah karena penyakit hati adalah lawan dari kesehatan hati. Sedangkan kesehatan hati yang sempurna terwujud dengan dua hal, (pertama) dengan kesempurnaan ilmu, pengetahuan dan keyakinannya, dan (yang kedua) dengan kesempurnaan iradah (kehendak) hati terhadap apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah.

Maka hati yang sehat adalah yang mengenal kebenaran dan mengikutinya, mengenal kebatilan dan meninggalkannya. Jika ilmunya merupakan keragu-raguan, dan hati itu memiliki syubhat yang bertentangan dengan pokok-pokok dan cabang-cabang agama yang Allah beritakan, maka ilmunya itu menyimpang. Kuat dan lemahnya penyakit hati ini sesuai dengan keragu- raguan dan syubhat ini.

Dan jika kehendak hati, kecintaan dan kecondongannya adalah kepada perbuatan maksiat kepada Allah, maka hal itu merupakan penyimpangan dalam kehendaknya dan merupakan suatu penyakit.

Dan terkadang, kedua penyakit ini berkumpul (dalam satu hati) sehingga hati itu menyimpang dalam ilmu dan kehendaknya.”[9]

Untuk lebih jelasnya lagi, Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tatkala hati memiliki dua kekuatan, (pertama) kekuatan ilmu dan pembeda, (kedua) kekuatan iradah (kehendak) dan cinta, maka kesempurnaan dan kebaikan hati adalah dengan menggunakan dua kekuatan ini dalam perkara yang bermanfaat baginya dan menyebabkan kebaikan dan kebahagiaannya. Sehingga, kesempurnaan hati adalah dengan menggunakan kekuatan ilmu untuk mengetahui dan memahami kebenaran, dan untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Juga dengan menggunakan kekuatan iradah dan cinta untuk mencari kebenaran, mencintai dan mendahulukannya di atas kebatilan. Maka orang yang tidak mengenal kebenaran adalah orang yang sesat. Orang yang mengenal kebenaran namun mengutamakan yang lain (kebatilan) adalah orang yang dimurkai.
Dan orang yang mengenal kebenaran dan mengikutinya adalah orang yang diberi nikmat.”[10]

Termasuk jenis penyakit syubhat, apa yang Allah sebutkan dalam al-Qur`an, surat al- Baqarah ayat 10, surat at-Taubah ayat 125, surat al-Hajj ayat 53, dan tempat yang lain. Adapun tentang penyakit syahwat, seperti yang Allah sebutkan dalam surat al-Ahzab ayat 32.[11]

DUA UNSUR KEBURUKAN

Ketahuilah –semoga Allah menjaga kita dari segala keburukan– bahwa segala keburukan bersumber dari dua unsur. Keduanya disebutkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam doa yang beliau ajarkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhuma.

Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu berkata, “Wahai Rasulullah! Ajarkanlah aku suatu doa yang aku ucapkan ketika pagi dan petang.” Maka Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Wahai Abu Bakar, ucapkanlah,
“Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Yang mengetahui perkara ghaib dan yang nampak, tidak ada sesembahan yang hak disembah selain Engkau, Tuhan dan Penguasa segala sesuatu. Aku berlindung kepadaMu dari keburukan jiwaku dan dari keburukan setan dan sekutunya. Dan (aku berlindung kepadaMu) dari berbuat keburukan terhadap diriku atau terhadap seorang muslim.”[12]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Hadits yang mulia ini mengandung permintaan perlindungan dari keburukan, sebab-sebabnya dan akibatnya. Karena seluruh keburukan munculnya dari jiwa manusia atau dari setan. Dan akibatnya akan kembali kepada pelakunya atau kepada saudaranya seislam.”[13]

Tentang jiwa manusia yang tercela, Allah menyebutnya dalam tiga tempat dalam al- Qur`an, surat Yusuf ayat 53, surat al-Qiyamah ayat 2 dan surat an-Nazi’at ayat 40.

Adapun tentang setan, maka peringatan Allah terhadap keburukannya lebih banyak daripada peringatan terhadap keburukan jiwa manusia. Seperti dalam surat al-Baqarah ayat 168, surat al-A’raf ayat 16, surat Fathir ayat 6, dan beberapa tempat lainnya. Hal itu karena keburukan dan kerusakan jiwa manusia muncul akibat was-was dan bisikan setan.[14]

OBAT PENYAKIT HATI

Setelah kita mengetahui bahwa inti penyakit hati adalah syubhat dan syahwat, sumber keburukan adalah jiwa manusia dan setan beserta sekutunya, maka di akhir pembahasan ini akan kita sampaikan obat terhadap penyakit tersebut sekaligus solusi terhadap sumber keburukan yang memunculkan penyakit tersebut.
AL-QUR`AN
Allah Ta'ala berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada...” (Yunus: 57)

Syekh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Dan penyembuh bagi penyakit-penyakit yang berada dalam dada, yaitu al-Qur`an ini sebagai penyembuh terhadap penyakit-penyakit yang ada dalam dada, yaitu penyakit syahwat yang menghalangi ketundukan terhadap syariat dan penyakit syubhat yang merusak ilmu yang yakin.

Karena dengan adanya nasihat, targhib (dorongan terhadap kebaikan), tarhib (peringatan terhadap keburukan), janji dan ancaman dalam al-Qur`an, akan menyebabkan harapan dan rasa takut[15]. Jika didapati padanya harapan terhadap kebaikan dan rasa takut dari keburukan, lalu keduanya terus berkembang bersamaan dengan berulangnya makna- makna al-Qur`an yang datang kepadanya, maka hal itu akan menyebabkan pengutamaan kehendak Allah atas kehendak diri sendiri. Sehingga apa yang Allah ridhai lebih disukai hamba itu daripada syahwat (kesenangan)nya sendiri.

Begitu pula burhan dan dalil yang Allah jelaskan dengan penjelasan yang gamblang dan paling baik[16], akan menghilangkan syubhat yang merusak kebenaran. Sehingga hati itu akan sampai kepada tingkatan keyakinan yang paling tinggi.”[17]

Menjadikan al-Qur`an sebagai obat penyakit hati, tidaklah hanya dengan membacanya saja. Bahkan lebih dari itu, seorang hamba harus mentadabburinya, memahaminya, dan mengamalkan kandungannya. Yaitu mewujudkan hakikat ‘ubudiyah kepada Allah Ta'ala, menjadikan Allah Ta'ala sebagai satu-satunya Dzat yang dituju dan menjadikan tuntunan Rasulullah n sebagai satu-satunya jalan untuk mencapai tujuan tersebut. Sehingga dengan hal itu dia benar-benar telah menjadikan al-Qur`an sebagai petunjuk baginya yang menghidupkan dan menerangi hatinya. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepadaNya-lah kamu akan dikumpulkan.” (al-Anfal: 24)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Sesungguhnya kehidupan yang bermanfaat hanyalah akan diperoleh dengan memenuhi seruan Allah dan RasulNya shallallahu’alaihi wasallam. Barangsiapa tidak memenuhi seruan ini maka dia tidak memiliki kehidupan, meskipun dia memiliki kehidupan seperti binatang, kehidupan yang juga dimiliki oleh binatang paling rendah.

Maka kehidupan hakiki yang baik adalah kehidupan orang yang memenuhi seruan Allah dan RasulNya secara lahir dan batin. Mereka adalah orang-orang yang hidup meskipun telah mati, sedangkan selain mereka adalah orang-orang yang mati meskipun badan mereka hidup. Oleh karena itu, manusia yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna dalam memenuhi seruan Rasul shallallahu’alaihi wasallam. Karena dalam segala hal yang beliau serukan terdapat kehidupan. Maka barangsiapa yang kehilangan sebagian darinya, berarti dia telah kehilangan sebagian dari kehidupan ini. Dan padanya ada kehidupan sesuai dengan pemenuhannya terhadap seruan Rasul shallallahu’alaihi wasallam.”[18]

Kemudian, sebagai peringatan, sebagian manusia berusaha membersihkan hatinya dari berbagai kotoran, namun dengan cara melakukan berbagai ritual ibadah yang sama sekali tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah n. Maka ketahuilah, bahwa hal itu tidak akan mengobati penyakit yang ada dalam hatinya, bahkan akan menambahkan kepadanya penyakit lain yang mungkin lebih berbahaya. Karena segala macam ritual ibadah yang tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah n pada hakikatnya bertentangan dengan al- Qur`an yang merupakan obat terhadap segala penyakit hati.
MUKHALAFAH DAN MUHASABAH
Dua hal ini, mukhalafah dan muhasabah, adalah solusi untuk mengatasi penyakit hati yang bersumber dari keburukan jiwa manusia.

Sesungguhnya, sifat dasar jiwa manusia adalah suka memerintahkan kepada perkara- perkara yang buruk, kecuali yang dirahmati oleh Allah. Dan memang jiwa manusia diciptakan pada asalnya dalam keadaan bodoh dan zhalim, sedangkan ilmu dan keadilan adalah suatu hal yang muncul kemudian, dengan anugrah dari Allah. Allah berfirman,

“Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (Yusuf: 53)

“Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan Amat bodoh.” (al-Ahzab: 72)  Keadaan manusia bersama dengan jiwanya, terbagi menjadi dua kelompok. Pertama, yang dikalahkan oleh jiwanya sehingga dia dikuasai dan dibinasakan oleh jiwanya, taat dan tunduk terhadap perintah-perintahnya. Yang kedua, manusia yang mampu mengalahkan jiwanya, sehingga dia menguasai dan menundukkan jiwanya di bawah perintah-perintahnya.[19]

Dan kelompok kedualah yang akan menggapai kemenangan dan kebahagiaan. Allah Ta'ala berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya. Maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).” (an- Nazi`at: 40-41)

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Orang-orang yang beribadah menuju Allah, meskipun jalan dan metode mereka berbeda-beda, telah bersepakat bahwa jiwa manusia menghalangi hati untuk sampai kepada Rabb. Dan bahwa Dia tidak bisa ditemui dan dicapai kecuali setelah mematikan dan meninggalkan jiwa dengan cara menyelisihi dan mengalahkannya.”[20]

Adapun tentang muhasabah terhadap jiwa, maka setiap jiwa akan ditanya dan dihisab pada hari akhirat kelak, sehingga selayaknya seorang hamba menghisab dirinya di dunia sebelum dia dihisab di akhirat. Allah berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat).” (al-Hasyr: 18)

Dan muhasabah terhadap jiwa ada pada dua keadaan. Muhasabah sebelum melakukan amalan dan muhasabah setelah amal.

Tentang muhasabah sebelum amal, al-Hasan rahimahullah berkata, “Semoga Allah merahmati seorang hamba yang berhenti ketika memiliki keinginan. Jika hal itu karena Allah, maka dia teruskan dan jika karena selainNya maka dia tinggalkan.”

Dijelaskan bahwa sebelum beramal hendaknya seorang hamba melalui empat tingkatan muhasabah. Pertama, melihat apakah amal tersebut mampu dia lakukan. Kedua, jika mampu, dia menimbang-nimbang mana yang lebih baik baginya, melakukan amalan tersebut atau meninggalkannya. Ketiga, memperhatikan niat yang mendorongnya melakukan amal itu, karena Allah atau yang lain. Jika karena Allah, maka dia teruskan, jika tidak maka dia hentikan. Keempat, jika amalan itu butuh kepada penolong dan pendukung, dia melihat apakah ada hal tersebut atau tidak. Jika tidak maka dia berhenti dan tidak melakukan amalan tersebut sampai dia mendapatkan penolong atau pendukung yang dibutuhkan.[21]

Adapun muhasabah setelah amal, maka seorang hamba menghisab dirinya atas tiga perkara. Pertama, menghisab dirinya atas kekurangan-kekurangan yang ada ketika dia melakukan ketaatan terhadap Allah. Kedua, menghisab dirinya atas amalan yang telah dia lakukan padahal meninggalkannya lebih baik dari melakukannya. Ketiga, menghisab dirinya atas perkara-perkara yang mubah atau yang biasa dilakukan, kenapa dilakukan?

Apakah karena Allah dan hari akhirat sehingga dia beruntung ataukah karena dunia semata sehingga dia merugi?[22]

Dan inti dari muhasabah terhadap jiwa adalah, pertama seorang hamba melihat dan memperhatikan hak Allah atasnya, kemudian yang kedua dia memperhatikan apakah dia telah memenuhinya sebagaimana mestinya?
ISTI’ADZAH DAN IKHLAS
Adapun solusi untuk mengatasi penyakit yang bersumber dari setan, maka dengan isti’adzah (meminta perlindungan) kepada Allah dari bahaya dan gangguan setan, dan ikhlas hanya mengharap keridhaan Allah dalam segala perbuatan.

Tentang isti’adzah Allah berfirman, “Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan maka berlindunglah kepada Allah, sesungguhnya Dia Mahamendengar dan Mahamengetahui.” (al-A’raf: 200)

Sedangkan tentang ikhlas, Allah telah memberitahukan bahwa setan tidak memiliki kekuasaan sama sekali terhadap orang-orang yang mukhlashin dan orang-orang yang bertawakal. Allah berfirman, “Iblis berkata, ‘Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlas di antara mereka’. Allah berfirman, Ini adalah jalan yang lurus, kewajibanKu- lah (menjaganya). Sesungguhnya hamba-hambaKu tidak ada kekuasaan bagimu terhadap mereka, kecuali orang-orang yang mengikut kamu, yaitu orang-orang yang sesat.” (al-Hijr: 39-40)

“Sesungguhnya setan itu tidak ada kekuasaannya atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Tuhannya. Sesungguhnya kekuasaannya (setan) hanyalah atas orang-orang yang mengambilnya jadi pemimpin dan atas orang-orang yang mempersekutukannya dengan Allah.” (an-Nahl: 99-100)

Syekh as-Sa’di rahimahullah berkata menjelaskan kata mukhlasin dalam surat al-Hijr di atas, “Yaitu orang-orang yang Aku (Allah) bersihkan dan Aku pilih mereka karena keikhlasan, keimanan dan tawakal mereka.”[23]

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah tidaklah memberikan kekuasaan bagi setan atas seorang hamba sampai hamba itu sendiri yang memberikan jalan bagi setan untuk itu,yaitu dengan menaatinya (setan) dan menyekutukannya...” lalu beliau berkata, “... Maka tauhid, tawakal dan ikhlas akan menghalangi kekuasaan setan. Sedangkan syirik dan cabang-cabangnya akan menyebabkan keksuasaan setan.”[24]

Akhirnya, kami mengingatkan, bahwa perkara hati –dan juga perkara-perkara lainnya– hendaknya diserahkan kepada Allah Ta'ala. Karena Dialah yang menguasai dan membolak-balikkan hati dengan kehendakNya. Allah Ta'ala berfirman,

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya.” (al-Anfal: 24)

Maka Allah Ta'ala lebih berkuasa terhadap hati-hati hambaNya daripada hamba itu sendiri.[25] Jika seorang hamba telah mengetahui hal ini, hendaknya dia senantiasa meminta kepada Rabbnya untuk memperbaiki hatinya, memberikah hidayahNya, mengokohkannya di atas keimanan, dan berlindung kepadaNya dari hati yang tidak khusyu’, keras dan tidak tunduk kepada Allah Ta'ala.[26] Sebagaimana hal itu juga dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam dalam beberapa doanya.
[1] Lihat Mawaridul Aman hlm. 51-53
[2] Artinya, “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kami akan kembali kepadaNya. Wahai Allah, berilah aku pahala pada musibahku ini dan berilah aku ganti yang lebih baik darinya.”
[3] Riwayat Muslim (918)
[4] Zadul Ma’ad (3/92-93)
[5] Riwayat Ahmad (3712), dishahihkan oleh Syekh al-Albani dalam ash-Shahihah (199)
[6] Al-Fawa`id, karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah, hlm. 23
[7] Lihat Kitab at-Tauhid, karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab, bab qaulillah wa ‘alallahi fatawakkalu in kuntum mu`minin.
[8] Riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah z, dihasankan oleh al-Albani rahimahullah dalam Shahih al-Jami’ (1670)
[9] Al-Qawa’idul Hissan al-Muta’aliqah bi Tafsiril Qur`an, karya Syekh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, hlm. 85-86
[10] Mawaridul Aman, hlm. 63
[11 Lihat al-Qawa’idul Hissan, hlm. 86
[12 Riwayat at-Tirmidzi (3526) dari Abdullah bin ‘Amr c, dishahihkan oleh al-Albani, lihat ash-Shahihah (2763) dan Shahihul Jami’ (7813)
[13] Mawaridul Aman, hlm. 158
[14] Lihat Mawaridul Aman, hlm. 157
[15] Inilah obat untuk penyakit syahwat.
[16] Dan ini adalah obat untuk penyakit syubhat. Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Akan tetapi, hal itu tergantung kepada pemahaman dan pengetahuan tentang maksud al-Qur`an. Siapa saja yang diberi hal tersebut oleh Allah, dia akan melihat kebenaran dan kebatilan secara jelas dengan hatinya, sebagaimana dia melihat malam dan siang.” (Lihat Mawaridul Aman, hlm. 97-98)
[17] Taisirul Karimir Rahman, hlm. 367
[18] Al-Fawa`id, hlm. 85-86
[19] Lihat Mawaridul Aman, hlm. 142
[20] Mawaridul Aman, hlm. 142
[21] Lihat Mawaridul Aman, hlm. 148
[22] Lihat Mawaridul Aman, hlm. 149-150
[23] Taisirul Karimir Rahman, hlm. 431
[24] Mawaridul Aman, hlm. 169
[25] Lihat Syifa`ul Qulub, hlm. 22
[26] Lihat Syifa`ul Qulub, hlm. 26
 
Top